ilmu manajemen

Bank Syariah

Posted on: 16 Desember 2008


Author : Andri Apriyono

Berkembangnya perbankan syariah dewasa ini menunjukan minat masyarakat pada system perbankan syariah yang berprinsipkan keadilan, kejujuran, transparansi dan tanggung jawab ini semakin disukai oleh masyarakat.

Kegiatan perbankan dengan system syariah pada dasarnya merupakan perluasan jasa perbankan bagi masyarakat yang membutuhkan dan menghendaki pembayaran imbalan yang tidak didasarkan pada system bunga, melainkan atas dasar prinsip syariah (hukum) Islam. Keberadaan system perbankan syariah tersebut dapat memenuhi kebutuhan sebagian masyarakat yang tidak bersedia memanfaatkan jasa-jasa bank konvensional karena prinsip keyakinan ataupun kepercayaan.

Bank syariah didalam menjalankan tidak menggunakan system bunga sebagai dasar penentuan imbalan yang akan diterima atas pembiayaan yang diberikan dan atau pemberian imbalan atas dana masyarakat. Penentuan imbalan yang diinginkan atau diberikan semata-mata didasarkan pada prinsip syariah. Hal ini berkebalikan dengan sistem bank konvensional dimana imbalan selalu dihitung dalam bentuk bunga.

Perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional

Untuk mengetahui perbedaan antara bank syariah dengan bank konvensional saya akan mengangkat suatu permasalahan dimana pada waktu Indonesia dilanda krisis moneter pada tahun 1990an yang melumpuhkan system perbankan Indonesia dimana bank-bank konvensional banyak mengalami kerugian dan puluhan di antaranya bekukan kegiatan usahanya dan likuidasi, sebaliknya dalam waktu yang sama bank-bank syariah tetap bertahan dan usahanya tidak terlalu banyak terpengaruh oleh krisis moneter.

Untuk itu kita harus mengetahui keadaan yang terjadi pada saat itu. Pada krisis tersebut system perbankan rentan terhadap krisis ekonomi terutama bank yang menggunakan system konvensional. Ada beberapa factor diantaranya:
1)   Pertama, kebijakan disektor perbankan tidak diikuti dengan kebijakan dalam pengwasan dan pelaksanaan prudential banking, dimana pada tahun 1983 pemerintah melakukan deregulasi perbankan dengan mencabut plafon suku bunga deposito dan kredit likuiditas yang mengakibatkan banyaknya bank-bank baru tumbuh seperti jamur yang tumbuh si musim hujan.
2)   Kedua, lemahnya fungsi pengawasan dan kurang adanya praktek tata kelola yang baik. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya exposures perbankan terhadap pinjaman pada pihak terkait (group lending exposures) seperti: BCA (kel. Salim), bank Bali (kelompok Bali financial), bank Danamon(kel.Usman Admajaya),dll. Sehingga tidak adanya diversified dan distribution credit risk. Kewajiban dalam mata uang asing yang melampaui kemampuan bank dan tidak adanya proteksi terhadap nilai tukar mata uang asing (unhedged position) menyebabkan sector perbankan sangat rentan terhadap depresiasi mata uang rupiah terhadap dollar amerika.
3)   Ketiga, struktur pendanaan dan pinjaman di sector perbankan tidak efisien. Pada factor inilah kunci sukes kenapa bank yang menggunakan system syariah dapat bertahan terhadap krisis. Ini disebabkan oleh tiga hal yaitu:
-> Umumnya asset perbankan mempunyai maturity profile jangka pendek akibatnya terjadi mismatch antara asset dan liabilities, yang mengakibatkan rentanya likuiditas bank jika liabilities ditarik secara serentak
-> Komposisi pendanaan didominasi oleh dana mahal, yaitu time deposit, negotiable certificate of deposits dan certificate of deposit. Akibatnya struktur pendanaan yang mahal ini cost of fund bank menjadi tinggi yang menyebabkan spread atau net interest margin menjadi terbatas. Hal ini tidak terjadi pada bank syariah karena negotiable certificate of deposits dan certificate of deposit tidak sesuai dengan prinsip syariah, cost of fund pada bank syariah rendah karena tidak adanya keharusan pembayaran yang ditentukan karena semua disesuaikan dengan pendapatan yang diperoleh oleh bank
->Bunga pinjaman relative tinggi karena mahalnya sumber pedanaan. Struktur bunga pinjaman yang cenderung tinggi disebabkan oleh cost of fund yang tinggi. Hal tersebut tidak terjadi pada bank syariah karena cost of fund disesuaikan dengan pendapatan bank maka bank syariah dapat leluasa memberikan pinjaman dengan biaya murah sesuai dengan kesepakatan.
Oleh karena itu perbankan dengan system syariah lebih tangguh terhadap krisis ekonomi. Hal itu disebabkan:
1) Bank syariah tidak terpengaruh tigkat suku bunga yang disebabkan oleh inflasi atau keadaan ekonomi lainnya seperti Devaluasi rupiah pada tahun 1997 yang mendorong pemerintah menaikan suku bunga, sehingga cost of fund, lending rate dan foreign exchange exposure pada bank konvensional menjadi tinggi.
2) Cost of fund pada bank syariah bersifat fleksibel karena disesuaikan dengan pendapatan yang dihasilkan oleh bank tersebut.oleh karena itu tidak ada keharusan membayar dalam jumlah tertentu pada pihak ketiga (nasabah)
3) Bank syariah dapat lebih bersaing dalam memberikan pinjaman karena besarnya pengembalian yang sudah termasuk keuntungan didalamnya dapat disesuaikan dengan kemampuan si peminjam sesuai dengan kesepakatan. Apabila merugi maka ditanggung kedua belah pihak

lebih lengkap donwload artikelnya :
Bank Syariah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

berteriaklah lantang jika dunia ingin melihatmu singkirkan rasa takutmu jika kau inginkan perubahan yakinlah kau bisa jika oranglain ingin percayai dirimu... karena aku adalah sang inovator....

Laman

Pengunjung Blog

  • 1,129,503 hits

Google Page Rank

%d blogger menyukai ini: