ilmu manajemen

Lean Manufacturing and Lean Accounting

Posted on: 18 Februari 2009


Author : PUTRA
sites : putra-finance-accounting-taxation.blogspot.com

Lean Accounting is a concepts designed to better reflect the financial performance of a company that has implemented lean manufacturing processes. These may include organizing costs by value stream, changing inventory valuation techniques and modifying financial statements to include non-financial information. While Lean manufacturing is a strategy designed to achieve the shortest possible production cycle by eliminating waste. The goal is to reduce inventory and produce only to meet customer demand. Benefits include lower costs, higher quality and shorter lead times.

Berbicara suatu concept tidaklah cukup sampai definisi saja. Banyak hal yang perlu dibahas, apa itu sejatinya lean concept?, bagaimana implementasinya?. Apa itu lean manufacturing, lean accounting, bagimana implementasinya?, mengapa lean manufacturing dan lean accounting? Apakah saya (perusahaan saya) cocok jika menerapkan lean manufacturing dan lean accounting? Berbicara mengenai lean accounting mau tidak mau harus berbiacara lean manufacturing dahulu.

Lean accounting di design untuk lean manufacturing, so tidak mungkin Lean Accounting bisa dipahami, jika lean manufacturing belum cukup dipahami.

Di preamble sengaja saya langsung berikan definisi lean accounting dan lean manufacturing, so bagi yang hanya sekedar ingin tahu, definisi lean accounting dan lean manufacturing cukup membaca first paragraph saja, tidak perlu membuang-buang waktu membaca article saya yang selalu panjang dan lebar ini. Bagi yang ingin tahu lebih banyak, silahkan bikin kopi atau minuman kesukaan anda, lalu duduk relax and read on……

Sesungguhnya lean manufacturing bukanlah barang baru. Sudah dikenal sejak akhir 2nd World War (Perang Dunia II). Dan negara yang pertama kali mengaplikasikan lean manufacturing adalah Jepang. Dari sanalah awal pertumbuhuan ekonomi jepang maju pesat menyaingi negara Inggris yang mengalami revolusi Industri lebih dahulu. Barulah kemudian United State dan European Union buru-buru mengikuti jejaknya jepang. Toyota® sangat lekat dengan lean manufacturing, karena Toyota® lah yang pertama kali sukses mengimplementasikan Lean concept.

Kita coba bandingkan antara Non-lean manufacturing dengan lean manufacturing concept…………..

Raw Material:

Non-lean manufacturer biasanya selalu mengusahakan agar mesin dan peralatan bekerja 24/7 (24 jam setiap hari dan 7 hari dalam seminggu). Berapapun jumlah pesanan, ada atau tidak ada pesanan mesin harus dipekerjakan.  Dan untuk menjaga continyuitas produksi, maka “raw material feeding” harus lancar. So, tidak boleh terjadi kekurangan raw material. Persediaan raw material harus tetap ada pada level yang cukup untuk mengisi space produksi. Untuk mengendalikan persediaan biasanya non-lean manufacturer menggunakan EOQ (Economical Order Quantity) sebagai tool untuk memutuskan jumlah raw material yang harus dibeli untuk menjamin ketersediaan raw material. Kecukupan pasokan adalah segala-galanya bagi non-lean manufacturer. Konsekwnsinya, berapapun jumlah pesanan, ada tidak ada pesanan, raw material harus selalu tersedia.

Jika kita lihat Laporan Keuangan non-lean manufacturer, di balance sheet akan selalu ada nilai yang significant pada “Raw Material”nya.

Any problem with that?

“Raw material adalah asset perusahaan”, itu benar. Tetapi banyak cost yang menyertai persediaan raw material, pabrik harus menyediakan space yang cukup luas sebagai tempat penyimpanan. Tidak cukup hanya di simpan saja, dimaintenance, harus lighting yang cukup, tempat harus selalu bersih, untuk jenis raw material tertentu mungkin butuh alat pengatur suhu, harus pasang alat pengaman bahkan harus dicover dengan insurance. Dan yang tak kalah pentingnya; harus di administrasi dengan baik. Mungkin diperlukan phisical count (stock opname) setiap menjelang penutupan buku di akhir bulan. Now you you should see what raw material cost is. Gaji pegawai gudang, jam kerja cleaner harus dibayar, electricity cost, insurance premium, harus membeli alarm atau mungkin CCTV untuk di gudang, air conditioner, jam kerja pegawai accounting yang dipakai untuk melakukan physical count. Lebih jauh dari itu, raw material yang disimpan berpotensi mengalami kerusakan atau bahkan usang, that is another potency of cost.

Isn’t that normal for a manufacturer? Yes, definitely for non-lean manufacturer.

Pertanyaanya adalah: Apakah semua cost itu bisa memberikan nilai tambah pada product yang dihasilkan, sehingga “product value” meningkat, sehingga barang bisa laku dengan harga lebih tinggi, dan pada akhirnya akan menghasilkan rofit yang lebih tinggi juga? , ATAU; dengan atau tanpa cost tersebut nilai product akan sama saja, dijual juga harganya akan tetap sama dan profit juga sama?

Lets compare with lean manufacturer…..

Pada lean-manufacturer, raw material purchase dilakukan hanya jika ada pesanan barang, karena lean manufacturer hanya akan berproduksi jika ada pesanan barang. Dan jumlah pemesanan pun tidak boleh melebihi jumlah yang dibutuhkan (no spare!).  Lean manufacturer tidak menyimpan raw material, warehouse hanyalah merupakan tempat persinggahan barang sementara. Lean manufacturer tidak membutuhkan EOQ, karena target persediaannya adalah “zero inventories”. Jikapun ada harus dalam negligible level (dalam jumlah dan nilai yang dapat diabaikan).

Is negligible raw material balance feasible?

Apa mungkin persediaan raw material nol (tanpa sisa)? Bagaimana caranya? Kunci dari lean manufacturer adalah “accurate planning and scheduling” harus dimanage oleh seorang production manager yang memiliki strong production management skill dan didukung oleh PPIC (Production Planner and Inventory Controller) yang kuat. Ketersediaan raw metrial akan bisa terjamin sepanjang pemesanan dilakukan tepat pada waktunya (tidak terlambat), so planning and scheduling harus benar-benar akurat.

How about raw material defect? and is it possible to get on-schedule delivery all the time? Bagaimana jika raw material yang diterima dalam keadaan cacat? Lagi pula apa barang akan selalu dapat diterima tepat waktu?

Lean-manufacturer sangat ketat soal qulity dan timetable, membutuhkan purchasing manager and staff yang benar-benar aktif dalam melakukan sourcing, memiliki sorching network yang luas dan kuat. Lean manufacturer hanya membina hubungan dagang dengan vendor (supplier) yang benar-benar reliable dalam soal quality dan schedule”. Supplier yang tidak reliable akan tersingkir dengan sendirinya.

Dengan persediaan raw material yang dalam nilai yang dapat diabaikan, maka semua maintenance cost dan administration yang tidak perlu (useless administration, useless maintenance) dapat ditekan se minimal mungkin (tidak perlu ac, tidak perlu nyala listrik 24 jam, tidak perlu alat pengaman khusus, tidak perlu melakukan physical count setiap menjelang penutupan buku, bahkan tidak perlu membayar insurance premium). Berapa cost yang dapat dihemat?

Factory Layout

Non-lean manufacturer membuat factory layout dan production flow sedemikian rupa sehingga satu jenis pekerjaan akan berada di satu tempat yang sama, sedangkan jenis pekerjaan lain akan dikelompokkan ke dalam satu area lain yang kemudian disebut dengan section-section.

Example: a garment manufacturer

Fabric cutting activities (pemotongan kain) ditempatkan di satu area, ditempati oleh pekerja-pekerja yang memiliki keahlian memotong kain. Kelompok ini mungkin di sebut “cutting section”, di kepalai oleh seorang supervisor, biasanya dibantu oleh satu orang yang khusus mengurusi administrasi (termasuk pencatatan internal) section tersebut, ditambah oleh satu orang expeditor yang akan memindahkan kain yang telah dipotong ke section berikutnya (sewing section)

Sewing activities juga ditempatkan di area tersendiri, yang ditempati khusus oleh orang-orang yang ahli menjahit pakian. Juga dikepalai oleh seorang supervisor, mungkin ada supervisor assistant, dan expeditor yang akan memindahkan barang yang telah di jahit ke section berikutnya (buttoning section).

Buttoning section juga demikian menjadi satu area khusus, lalu barang yang telah di pasang kancing dikirimkan ke trimming section, dari trimming section dipindahkan ke Quality control section, terus di push hingga ke packing dan di shipped-out.

Maintenance dan repair machine atau equipment ditangani oleh satu section khusus di lokasi khusus yang mungkin disebut bagian (section) maintenance, yang terdiri dari beberapa orang technician yang dikepalai oleh seorang maintenance/technician supervisor.

Bagaimana dengan lean manufacturer?

Lean manufacturer membuat factory layout sedemikian rupa sehingga satu jenis product dikerjakan oleh satu kelompok kecil pekerja mulai dari proses awal hingga proses akhir dalam satu lokasi yang kemudian di sebut dengan “Line atau station”. Dan jenis product lain dikerjakan oleh kelompok lain mulai dari proses awal hingga akhir juga.

Jika memakai contoh garment di atas, maka kemeja type A, akan dikerjakan oleh satu kelompok yang terdiri dari 1 orang tukang potong kain, 1 orang tukang jahit, 1 orang button holer & puncher, 1 orang trimmer (tukang potong benang), 1 orang quality controller, dan satu orang tukang bungkus (packer). Maintenance mesin dan peralatan ditangani oleh kelompok yang sama di tempat yang sama. Memang lean manufacturing menuntut pekerjanya terampil mengoperasikan beberapa jenis mesin, bahkan bisa melakukan maintenance rutin dan reparasi ringan. Sehingga, sekali raw material masuk ke line (station), maka keluar sudah berupa barang jadi yang telah terbungkus dan siap untuk di shipped-out.

Apa pengaruh factory lay-out?

Dua model factory lay-out ini menimbulkan production cost yang sangat berbeda.

How?

Dengan factory layout yang dipakai dalam lean manufacturing di atas, labour cost bisa ditekan menjadi sangat rendah, tidak membutuhkan expeditor yang khusus memindahkan fisik barang dari satu proses ke proses berikutnya yang berlokasi di section yang berbeda, waktu yang dipakai untuk memindahkan barang pun bisa di pangkas hingga dititik nol (tidak dibutuhkan lagi). Administration serah terima barang antar section pun tidak diperlukan lagi. Tidak memerlukan banyak tenaga technician yang khusus melakukan pemeliharaan machine and equipment, karena maintence rutin sudah ditangani oleh masing-masing station. Dalam satu pabrik besar, dengan banyaknya proses demi proses yang terjadi, bisa dibayangkan berapa useless time, useless adminsitration and useless labour yang bisa dipangkas oleh lean manufacturing.

Production Set-Up.

No doubt, production set-up adalah another time consuming. Karena set machineries and equipment lengkap dari proses awal hingga proses akhir berada dalam satu station, maka production set-up pada lean manufacturing bisa dilakukan sangat cepat, bahkan tidak memerlukan tenaga khusus, production set-up bisa dilakukan oleh pekerja di station tersebut. Bahkan production set-up mungkin sama sekali tidak diperlukan jika pegawai station selalu melakukannya setiap kali satu masa produksi selesai. That is another useless time cutter of lean manufacturing.

Production Flow and Work In Process Inventory

Seperti telah saya singgung sekilas di sub pokok bahasan “raw material” di atas, Non-Lean Manufacturing menggunakan “PUSHING SYSTEM”.

What is pushing system?

Production flow dimulai dari hulu proses terus di push ke hilir. Jika menggunakan contoh garment tadi, maka proses dimulai dari raw material purchase, lalu raw material yang datang dipush (dikirimkan) ke bagian pemotongan kain tanpa melihat apakah bagian pemotongan kain masih ada kapasitas untuk melakukan pemotongan lagi atau sedang terisi penuh. Jika kapasitas sedang terisi, maka raw material akan diam sementara di bagian potong, menunggu kain yang sedang dipotong selesai dahulu.

Demikian halnya bagian potong, begitu kain selesai dipotong, maka potongan akan dikirikan ke sewing section (bagian jahit), jika semua mesin sedang terisi penuh, maka untuk sementara potongan akan mengendap di bagian jahit, demikian seterusnya, terakhir barang akan mengendap di gudang barang jadi menunggu permintaan dari bagian sales (marketing).

Akibatnya?

Banyak ada barang setengah jadi (work in process) mengendap di section-section. Work in process inventory juga memerlukan handling, administrasi dan control.

Bagaimana dengan lean manufacturing?

Work In Process Inventory tidak pernah ada di lean manufacturing, karena lean manufacturing menggunakanPULLING SYSTEM”.

Proses dimulai dari marketing (sales). Jika ada order (pesanan), maka sales (marketing department) akan memesan barang jadi ke gudang barang jadi. Jika barang tidak tersedia, maka warehouse akan memesan barang ke station-station, lalu station akan meminta raw metrial ke gudang kain, jika raw material tidak tersedia, maka gudang kain akan memesan kain ke bagian purchasing, baru kemudian bagian purchasing memesan barang ke vendor (supplier) sejumlah yang dibutuhkan saja (zero spare quantity), dengan delivery schedule yang telah ditentukan.

So with the pulling system, maka tidak akan pernah ada barang mengendap, work in process inventory tidak pernah ada. Bahkan di setiap akhir hari kerjapun, tidak akan ada tumpukan barang dalam process. Demikian halnya dengan persediaan barang jadi, jumlah inventory bisa ditekan hingga ke value yang negligible (bisa diabaikan). So, pengendalian terhadap inventory tidak pernah diperlukan, baik itu yang berupa raw material, work in process maupun finished good. Dengan demikian maka “inventory cost related” bisa dipangkas hingga ke titik yang paling rendah.

Quality Management

How about quality management?

Repairing (revisi/perbaikan) is another useless activities yang tidak constribute any value added kepada product yang dihasilkan maupun kepada customer. So, aktifitas memperbaiki product cacat (poor quality) juga di minimalisasikan oleh lean manufacturing concept.

How?

Let’s do a comparison again…

Non-lean manufacturer memakai “AQL (Accepted Quality Level)standard dalam implementasi “product’s quality management”-nya. Inspection (Pemeriksaan barang) dilakukan oleh satu section (bagian) khusus yang mungkin disebut “bagian Quality Control (QC)” atau “Quality Assurance (QA)”. Pemeriksaan dilakukan dengan “sampling and random checking”, defect akan di terima (ditoleransi) pada level tertentu dalam percentage tertentu (sesuai dengan AQL). Sedangkan barang yang dianggap defect, akan dikembalikan ke bagian dimana defect terjadi. Back-forth-nya barag cacat sangatlah time and cost consuming.

Bagimana dengan Lean Manufacturing?

Lean manufacturing, mentargetkan ZERO DEFECT with Unit-by-unit Checking”, dan pemeriksaan kwalitas dilakukan di station-nya, shingga quality bisa terkendali sejak awal proses, hingga barang keluar dari station dalam kedaan telah terpacking, system ini bisa memeniminalisasi defect hingga ke titik yang paling rendah. Jikapun masih ada poor quality, maka aktifitas perbaikan tidak akan bolak balik memakan waktu.

In the whole concept, lean manufacturing memang more than make sense to reduce lead time, cut useless cost, useless admin and useless labor, a powerful concept to boost profit.

Is Lean Concept Applicable for Non-manufacturer Business?

Saya rasa, market and customer oriented dan “lean” concept dalam artian luas, selalu dibutuhkan pada jenis bidang usaha apapun. Dan useless activities, useless administration, useless staff bisa terjadi dalam bidang business (usaha) apapun as well. Selama useless-useless itu ada saya rasa pemangkasan selalu dibutuhkan. Walaupun tentu saja tidak bisa mengadopsi lean system sepenuhnya (i.e.: pada bidang jasa, mungkin anda bisa menghilangkan “useless administration and useless staff). Yang menentukan applicable atau tidaknya saya rasa lebih pada: sejauh mana kemampuan anda memahami lean concept itu sendiri. dan batasannya mungkin hanya imajinasi, creatifitas dan logika anda

How Good is Lean Manufacturing and who is in success on implementation?

Berikut adalah fakta dan data yang berhasil saya kumpulkan dari internet yang menyebutkan seberapa ampuhnya “Lean Manufacturing System” dalam memangkas useless cost sekaligus mengangkat value added:

1   With many companies that implemented what are referred to as “lean” processes in their manufacturing operations, Landscape Structures Inc. has seen significant benefits. Manufacturing lead times dropped 90%, inventory turnover jumped 50% and production capacity was freed up by about 25% each year. According to CFO Fred Caslavka, CPA, the privately held manufacturer of playground equipment in Delano, Minnesota, has “had some big successes from applying lean manufacturing processes to its business (Source:Journal Of Financial Accountancy (ICPA), 2005).

2  Gorton’s says it more than met its original goal of lowering inventories by 40% to 50%. Xantrex Technology Inc. says in one area it managed to reduce lead times from eight weeks to one day and improve productivity 100%. Whirlpool Inc. says its Oklahoma plant had a quality improvement of more than 40% over the past two years ( Source: Lean Advisors, Ontario, Canada) “When standard cost accounting was developed in the early 1900s, most companies’ cost structures consisted of 60% direct labor, 30% materials and 10% overhead, kata Orest J. Fiume, dalam bukunya “Real Numbers: Management Accounting in a Lean Organization”.

Lean-Manufacturing Resources

Tertarik dan ingin mengimplementasikan lean manufacturing? Jika anda merasa kurang menguasai concept atau tidak yakin sanggup untuk melakukan execution yang tepat. Serahkan pada ahlinya. Sekarang telah banyak Lean Consultan (advisors) tersedia. Anda bisa menggunakan jasa mereka. Caranya: Buka search engine kesayangan anda (Google, Yahoo, Live Search or whatever) lalu search “Lean Advisors” atau “Lean Consultant”. Pasti langsung anda temukan

Lebih lengkapnya download artikelnya :

Lean Manufacturing and Lean Accounting
Click Here to Advertise on My Blog
Upload, Share dan Earn to ziddu.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

berteriaklah lantang jika dunia ingin melihatmu singkirkan rasa takutmu jika kau inginkan perubahan yakinlah kau bisa jika oranglain ingin percayai dirimu... karena aku adalah sang inovator....

Laman

Pengunjung Blog

  • 1,129,503 hits

Google Page Rank

%d blogger menyukai ini: